Kedai Kopi Sebagai Ruang Publik Masyarakat Indonesia

August 22, 2017 8:03 pm

Oleh: Regi Suryo Laksono

 

Eksistensi ruang publik yang ada saat ini merupakan wujud kebutuhan masyarakat. Jurgen Habemas dalam bukunya yang berjudul The Structural Transformation of The Public Sphere (1989) menjelaskan bahwa ruang publik yang terbentuk di masyarakat kental dengan hal-hal yang berbau diskursus dan debat umum. Ruang publik muncul sejak awal abad ke-17 di Eropa, mereka memanfaatkan ruang publik untuk membahas isu-isu penting yang terjadi di pemerintahan. Mereka menjadikan salon-salon dan kedai kopi sebagai ruang publik. Hal tersebut berlanjut menjadi suatu kebiasaan dan menyebar sampai ke wilayah Asia.

Jauh sebelum berkembang di Eropa, kebiasaan berkumpul di kedai kopi sudah lebih dulu terjadi di Jazirah Arab pada pertengahan abad 15 (The Road to Java Coffee, 2013). Para ulama memanfaatkan efek stimulus meminum kopi untuk pencegah rasa kantuk saat menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Kedai kopi juga mereka jadikan tempat unuk berdiskusi, bahkan beberapa pergerakan politik serta gagasan emas lahir di kedai kopi.

Kebiasaan berkumpul dan bercengkrama lekat dengan budaya masyarakat Indonesia. Di Aceh, mereka memanfaatkan warung-warung kopi yang buka seusai Sholat Subuh untuk sekadar berkumpul dan bertukar cerita sampai tiba waktunya mencari nafkah. Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat yang sebelumnya tidak saling mengenal menjadi kenal di kedai kopi, inilah alasan mengapa bangsa Indonesia dikenal dengan keramahannya. Hal serupa mulai terjadi di banyak kota di Indonesia, walaupun tidak selalu kedai kopi yang menjadi pilihan.

Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan kedai kopi sangat pesat di Indonesia, Jakarta khususnya. Berlatarbelakang masyarakat yang heterogen dengan tingkat kesibukkan yang tinggi, memaksa mereka mengonsumsi kopi untuk membuatnya terjaga dan menstimulus otak. Sempat melemah beberapa tahun, kini Kedai kopi seperti mendapat ruhnya kembali, tanpa sekat dan bersahabat, siapapun dapat berbaur dari berbagai kalangan masyarakat, perannya sebagai ruang publik sudah menjadi kebutuhan masyarakat untuk mereka yang ingin sembunyi dari penatnya Jakarta, kopi sebagai mata air dan kebahagiaan adalah muaranya. Terlepas dari wujudnya ruang tersebut, setidaknya masih memiliki nilai kebermanfaatan.